Empat desa di Kecamatan Tidore Utara berkerjasama mendirikan Sekolah Menengah Umum (SMU) agar anak-anak desa dapat menempuh pendidikan tingkat lanjut. Bagi masyarakat di daerah kepulauan, kerjasama antardesa ini mampu mendekatkan akses sekolah. Kerjasama ini juga memutus rantai anak putus sekolah karena para siswa dapat bersekolah di kota kecamatannya sendiri.

Di dunia pendidikan, permasalahan utama masyarakat yang tinggal daerah kepulauan adalah sulitnya mengakses pendidikan formal karena lokasi sekolah sangat jauh dari tempat tinggal warga. Harapan baru lahir setelah empat desa di Kecamatan Tidore Utara (Desa Maitara, Desa Maitara Utara, Desa Maitara Selatan, dan Maitara Tengah) menjalin kerjasama untuk mendirikan sekolah.

Nama Kerjasama Pendirian SMU Tododara
Pihak yang dilibatkan Pemerintah Desa Maitara, Desa Maitara Utara, Desa Maitara Selatan dan Maitara Tengah
Alamat Desa Maitara, Kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara
Kontak
  • Ali Nurdin (Kepala Desa Maitara) – 085395549147
  • Idris Dano Umar (Sekretaris Desa Maitara – 082113377295/082188159634
  • Abd. Ismail (Mantan Kepala SMU Tododara)- 082259226066
  • Sebelumnya mendirikan SMU, Kecamatan Tidore Utara hanya memiliki fasilitas Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP). Untuk melanjutkan Sekolah Lanjutan Atas, baik SMU dan SMK (Sekolah Menengah Kejujuruan), anak-anak kepulauan itu musti pindah ke Kota Ternate dan Tidore.

    Jarak antara desa-desa di kepulauan dengan Kota Ternate maupun Tidore sangat jauh. Masyarakat kepulauan harus menyewa rumah untuk tempat tinggal anak-anak mereka yang tengah menempuh pendidikan. Ada juga siswa yang memilih untuk naik perahu boat setiap hari, tapi pilihan itu sangat menyita tenaga dan ongkos yang cukup besar. Para wali murid juga mengaku sulit memantau perkembangan dan perubahan perilaku anak. Mereka selalu khawatir dengan keselamatan anak-anaknya, khususnya saat cuaca sedang tidak mendukung.

    Pada 2015, sekolah itu berdiri dengan nama SMU Tadodara. “Tododara” mempunyai arti “kujaga, kurawat dan kusayangi”. Awalnya, pemerintah desa bersepakat untuk menggerakkan pembiayaan swadaya dari partisipasi warga. Pada 2018, desa-desa sepakat menggunakan Dana Desa untuk membangun gedung SMA Tododara. Meski baru memiliki dua ruang kelas, kini anak-anak bisa bersekolah dengan nyaman dan tenang.

    Jumlah siswa yang menempuh pendidikan di SMU telah mencapai 100 orang atau setara dengan tiga kelas. Tahun 2018 merupakan kali pertama SMA tododara untuk meluluskan anak didiknya. Tenaga pendidik SMU Tododara berjumlah 12 orang dan berstatus non-ASN. Semuanya adalah putra-putri terbaik dari empat desa pendiri sekolah tersebut.

    Meski masih jauh dari kata ideal, keberadaan SMU membuat para orangtua wali murid bernafas lega. Mereka dapat memantau perkembangan dan perilaku anak-anak mereka secara lebih dekat dan saksama. Para wali murid dapat menghemat pengeluaran rumah tangganya, khususnya pada pos biaya harian transportasi
    pendidikan anak.

    Prakarsa kerjasama antardesa untuk membangun lembaga pendidikan merupakan perwujudan dari visi desa sebagaimana termaktub dalam UU Desa. Desa memutuskan kebijakan sendiri membawa manfaat baik bagi masyarakat desa.